Masukan Dewan Ekonomi Nasional — Diskusi DJSEF, Kementerian Keuangan
20 Oktober 2026
TopUpj=max{0, 15%−ETRj}×(GloBEj−SBIEj)−DMTTj
| Ilustrasi anak usaha MNE, 2026 | Nilai |
|---|---|
| Laba GloBE (payroll 50; aset berwujud 300) | 100,0 |
| SBIE = 9,4% × 50 + 7,4% × 300 | 26,9 |
| PPh normal 22% → dibebaskan tax holiday 100% | 22,0 |
| DMTT = 15% × (100 − 26,9) | 11,0 |
| Manfaat riil bagi investor | 11,0 |
| — dari selisih tarif 22% → 15% | 7,0 |
| — dari laba yang dilindungi SBIE (15% × 26,9) | 4,0 |
Manfaat riil ≈ 11 dari 22: 7 dari selisih tarif ke 15%, ≈ 4 dari SBIE; sisanya dipungut DMTT. Tax holiday + DMTT tetap lebih besar daripada sekadar memotong tarif ke 15%.
Diperlakukan sebagai penghasilan, tetapi wajib refund tunai ≤ 4 tahun.
Berbasis capex/produksi; dibatasi ±5,5% payroll atau depresiasi.
Bagi MNE dalam cakupan, ruang insentif efektif terbatas (kira-kira separuh nominal, ditambah QTI); di atas itu insentif hanya memindahkan penerimaan.
Jangka pendek: lantai 15% menaikkan penerimaan tanpa eksodus. Pesaing terkena lantai yang sama.
| Ukuran | Angka |
|---|---|
| Grup dalam cakupan (CbCR 2021–2024) | 722 grup |
| Grup wajib lapor GMT, tahun pajak 2025 | 46 grup |
| Potensi DMTT | Rp86 miliar (3 grup) |
| Potensi IIR atas grup berinduk Indonesia | Rp4,4 triliun (4 grup) |
| Penerima tax holiday, TP 2024 | 36 WP, Rp7,26 triliun |
Insentif yang “dipungut kembali” DMTT hanya menyangkut segelintir grup; mayoritas investor di luar cakupan.
| Klaim | Status | Catatan |
|---|---|---|
| IIR memungut laba anak usaha luar negeri ber-ETR < 15% | Benar | Sumber potensi terbesar (Rp4,4 T); tetapi Singapura dan Hong Kong kini memungut DTT sendiri |
| Lantai 15% mengurangi insentif memindahkan laba keluar | Sebagian | Selisih 22% vs 0% menyempit menjadi 22% vs 15% |
| Menjangkau underreporting dan integrasi vertikal domestik | Tidak | GloBE memakai laporan keuangan dan harga transfer yang ada; grup domestik dan < EUR 750 juta di luar cakupan |
| Memperkuat data audit transfer pricing | Benar | GloBE Information Return melengkapi CbCR |
Manfaatnya nyata lewat IIR dan data, tetapi bukan pengganti penegakan transfer pricing.
| Instrumen | Pemanfaatan |
|---|---|
| Tax holiday | 36 WP (2024), turun dari 42 |
| Tax allowance | 42 WP, Rp672 miliar (2024); pengajuan 30 → 15 (2025) |
| Super deduction litbang | 12 WP |
| Super deduction vokasi | 23 WP (2020), 33 WP (2021) |
Instrumen pengganti (QTI) harus sederhana dan otomatis, bukan berbasis permohonan.
Insentif hanya untuk investasi yang mobile; untuk pencari pasar dan sumber daya, belanja perpajakan redundan.
Satu sektor bisa memerlukan dua instrumen, tergantung struktur kepemilikan pelakunya.
| Filter | Pertanyaan kunci | Proksi data |
|---|---|---|
| Mobilitas investasi | Mudah pindah ke negara pesaing? | Orientasi ekspor |
| Spillover | Keterkaitan & multiplier domestik | Tabel I-O BPS |
| Eksposur Pilar Dua | Porsi pelaku ≥ EUR 750 juta | CbCR (DJP) |
| Kecocokan instrumen | Terkait capex/payroll/R&D? | Intensitas faktor |
| Biaya fiskal | Biaya per pekerjaan baru | Belanja Perpajakan |
Insentif paling layak untuk investasi yang mobile, ber-spillover tinggi, dan bisa dikaitkan ke substansi.
185 produk; titik merah = kandidat. Sumber: Tabel I-O 2020 BPS, diolah.
| Sektor | ~BL | Ekspor | Multiplier upah | Instrumen |
|---|---|---|---|---|
| Alas kaki, pakaian jadi | 1,06–1,25 | 40–66% | 0,29–0,43 | Berbasis payroll |
| Kendaraan, baterai | 1,03–1,08 | 14–18% | 0,30–0,38 | QTI capex |
| Elektronik | 0,91 | 48% | 0,28 | Capex/R&D pemasok komponen |
| Farmasi, alkes | 1,07–1,10 | 7–9% | 0,29 | Super deduction R&D |
| Kimia dasar, bubur kertas | 1,14–1,16 | 37–58% | 0,23–0,32 | Allowance; bubur kertas terikat bahan baku |
| Smelter, besi baja | 1,08–1,19 | 79–83% | 0,22–0,23 | Tanpa insentif PPh |
Elektronik ber-spillover rendah (perakitan); padat karya ekspor paling cocok untuk insentif berbasis payroll.
Kanan atas = sektor kunci. 44% input Listrik dari listrik sendiri. Sumber: I-O 2020 BPS.
