Sekitar setahunan lalu, saya dan istri saya mengunjungi sebuah musium di Canberra yang namanya Museum of Australian Democracy. Musium ini menggunakan gedung parlemen Australia jadul (parlemennya sekarang kerja di gedung baru). Di dalam musium ini ada berbagai macam teks dan penjelasan soal kejadian-kejadian terkait politik dan demokrasi di Australia, juga para Perdana Menteri lama. Kalo cuma foto-foto di luar sih gratis, tapi kalau mau masuk cukup bayar 2$ per orang. Menurut kami sih *worth it* lah 2$ per kepala. Berikut ini saya sertakan beberapa foto kami berdua ^^
After a long wait, Indonesian parliament finally ratified Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). In 10th of February 2020, Indonesian President, Joko “Jokowi” Widodo, went to Australia to share the good news himself with his Australian counterparts.
Belum lama ini channel youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan video baru, yaitu presentasi Menteri Nadiem Makarim tentang Kampus Merdeka. Bagi saya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementerian paling penting dari semua kementerian yang ada. Selain karena duitnya banyak, mereka adalah Kementerian yang mengatur masa depan kita. Bagi saya, sebuah bangsa hanya akan menjadi sebesar apa yang mereka ajarkan ke anak-anaknya. Anak-anak ini adalah masa depan kita. Oleh karena itu, ketika Jokowi mengumumkan nama Nadiem sebagai Mendikbud, saya lumayan excited.
Australia sedang berduka. Kebakaran hebat melanda di benua ini, tepatnya di provinsi New South Wales (NSW), yang sekarang merambat ke Victoria juga. Kebakaran kali ini luasnya sampai jutaan hektar, sebuah rekor baru. Korban jiwa mencapai puluhan orang dan kerugian aset penduduk mencapai ratusan ribu dolar.
Baru-baru ini cwider lagi rame gara-gara ada dokter yang ngetwit tentang dampak negatif menyusui terhadap si ibu.
Siapa bilang ibu menyusui jadi lebih sehat?
Nih ya saya kasik tahu...
*siap2 dilempar kulit pete oleh para penyembah ASI
Liberalisasi tidak untuk semua. Kebijakan serba liberalisasi mendapatkan tekanan setelah dianggap menjadi penyebab baik krisis finansial Asia pada tahun 1998, maupun kemudian krisis finansial global pada tahun 2008. Asumsi pasar sempurna yang menjadi basis argumen kebijakan liberalisasi finansial langsung patah begitu terjadi kedua krisis tersebut.