Perencanaan adalah hal yang penting. Seperti kata pepatah:
“A man who does not plan long ahead will find trouble at his door.” ― Confucius, Chinese philosopher
baru-baru ini saya menemukan software gratisan bernama ADMB. Software ini fungsinya untuk mengestimasi regresi non-linear. Saya perlu estimasi regresi non-linear untuk dapet parameter elastisitas yang bukan 1.
Contoh yang dipakai oleh ADMB untuk Robust Linear Regression adalah model (von Bertalanffy) growth curve yaitu:
Untuk postingan review paper pertama, saya akan coba pake papernya {% assign author = site.data.article[page.author] %} {{ author.name }} {{ author.year}} yang pastinya menarik. jadi paper beliau yang berjudul {{ author.title}} ini dipublikasikan di {{author.journal}} baru-baru ini. Tentunya akan menarik melihat bagaimana raksasa manufaktur seperti Jepang tergeser oleh Korea Selatan maupun Taiwan.
Apakah anda seorang pengamat kebijakan publik? Gak harus profesional lho ya. Bahkan orang yang suka komentarin kebijakan pemerintah di waktu luang dan bukan kerjaan utamanya, sudah sewajarnya karena kebijakan tersebut mungkin mempengaruhi kehidupan anda sehari-hari. Contoh kecil saja, temen saya yang kerjaan sampingannya jualan model kit tentu sangat terpengaruh kebijakan pemerintah soal Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk mainan anak, meskipun beliau gak pernah sekolah di disiplin ilmu kebijakan publik.
Paper ini saya baca karena kebutuhan untuk estimasi fungsi produksi Constant Elasticity of Substitution (CES). Umumnya ketika melakukan estimasi Total Factor Productivity (TFP), ekonom lebih suka menggunakan fungsi Cobb-Douglass yang gampang dibikin linear, dan parameternya lebih berguna untuk diterjemahkan ke dunia nyata. Sayangnya, kalau mau menggunakan model terstruktur seperti model Computable General Equilibrium (CGE), model estimasi pake Cobb-Douglass punya kelemahan berupa parameter substitusinya akan selalu 1. Hari gini mana ada model CGE yang pake substitusi=1?
Sebenarnya udah lama sih mau ngeblogin review papernya {% assign author = site.data.article[page.author] %} {{ author.name }} {{ author.year}} . Paper ini banyak yang nge-cite, dan ketika nongol emang isu-nya hot banget: soal bagaimana penurunan tarif bisa membantu Indonesia ngikut Global Value Chain (GVC), dan makin produktif.
Sekitar setahunan lalu, saya dan istri saya mengunjungi sebuah musium di Canberra yang namanya Museum of Australian Democracy. Musium ini menggunakan gedung parlemen Australia jadul (parlemennya sekarang kerja di gedung baru). Di dalam musium ini ada berbagai macam teks dan penjelasan soal kejadian-kejadian terkait politik dan demokrasi di Australia, juga para Perdana Menteri lama. Kalo cuma foto-foto di luar sih gratis, tapi kalau mau masuk cukup bayar 2 per kepala. Berikut ini saya sertakan beberapa foto kami berdua ^^
After a long wait, Indonesian parliament finally ratified Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). In 10th of February 2020, Indonesian President, Joko “Jokowi” Widodo, went to Australia to share the good news himself with his Australian counterparts.
Belum lama ini channel youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan video baru, yaitu presentasi Menteri Nadiem Makarim tentang Kampus Merdeka. Bagi saya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementerian paling penting dari semua kementerian yang ada. Selain karena duitnya banyak, mereka adalah Kementerian yang mengatur masa depan kita. Bagi saya, sebuah bangsa hanya akan menjadi sebesar apa yang mereka ajarkan ke anak-anaknya. Anak-anak ini adalah masa depan kita. Oleh karena itu, ketika Jokowi mengumumkan nama Nadiem sebagai Mendikbud, saya lumayan excited.
Australia sedang berduka. Kebakaran hebat melanda di benua ini, tepatnya di provinsi New South Wales (NSW), yang sekarang merambat ke Victoria juga. Kebakaran kali ini luasnya sampai jutaan hektar, sebuah rekor baru. Korban jiwa mencapai puluhan orang dan kerugian aset penduduk mencapai ratusan ribu dolar.