DISCLAIMER: Tulisan ini bersifat murni pendapat pribadi penulis, ditulis iseng-iseng aja, tanpa mewakili pandangan institusi manapun.
Belum lama ini, Netijen dihebohkan oleh rencana pemerintah untuk memblokir handphone alias telepon seluler (ponsel) yang tidak terdaftar alias tidak resmi. Setiap ponsel memiliki International Mobile Equipment Identity (IMEI), semacem KTP buat ponsel gitu, dan ponsel yang tidak terdaftar IMEI nya dianggap ponsel Black Market (BM) dan tidak bisa digunakan di Indonesia. Beberapa informasi tentang aturan tersebut dapat dilihat di link di Tirto, Liputan 6, dan Kompas, serta tentu beberapa media lain.
Baru-baru ini netijen dihebohkan oleh berita OTT kasus penyuapan impor bawang putih. Beritagar lumayan detil mendokumentasikan kasus ini, dan setiap reportase mereka menurut saya pribadi sangat menarik untuk dibaca. OTT tersebut berhasil mendapatkan bukti transfer sebesar 2 milyar rupiah dari total deal sebesar “…Rp3,6 miliar dan imbalan komitmen Rp1.700 — Rp1.800 dari setiap kg bawang putih yang diimpor”. Gile ye, 2 milyar kalo dibeliin bubur ayam bisa buat anak cucu tuh!
Another week, another trade related post! Baru-baru ini, netijen dikejutkan (lagi) dengan berita bahwa Indonesia akan mengimpor ayam dari Brazil. Hal ini akibat Indonesia disengketakan oleh Brazil ke WTO karena Indonesia menghalangi impor ayam dari Brazil, dan Indonesia kalah. Ini menyebabkan Indonesia harus merelaksasi peraturan pembatasan impor ayam.
Perencanaan adalah hal yang penting. Seperti kata pepatah:
“A man who does not plan long ahead will find trouble at his door.” ― Confucius, Chinese philosopher
baru-baru ini saya menemukan software gratisan bernama ADMB. Software ini fungsinya untuk mengestimasi regresi non-linear. Saya perlu estimasi regresi non-linear untuk dapet parameter elastisitas yang bukan 1.
Contoh yang dipakai oleh ADMB untuk Robust Linear Regression adalah model (von Bertalanffy) growth curve yaitu:
This article is originally appears here on my medium blog. I remake it in this blog because here I can use $\LaTeX$!! yay!! I don’t change anything so if you’ve red this in my medium domain then skip this.
Untuk postingan review paper pertama, saya akan coba pake papernya {% assign author = site.data.article[page.author] %} {{ author.name }} {{ author.year}} yang pastinya menarik. jadi paper beliau yang berjudul {{ author.title}} ini dipublikasikan di {{author.journal}} baru-baru ini. Tentunya akan menarik melihat bagaimana raksasa manufaktur seperti Jepang tergeser oleh Korea Selatan maupun Taiwan.
Apakah anda seorang pengamat kebijakan publik? Gak harus profesional lho ya. Bahkan orang yang suka komentarin kebijakan pemerintah di waktu luang dan bukan kerjaan utamanya, sudah sewajarnya karena kebijakan tersebut mungkin mempengaruhi kehidupan anda sehari-hari. Contoh kecil saja, temen saya yang kerjaan sampingannya jualan model kit tentu sangat terpengaruh kebijakan pemerintah soal Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk mainan anak, meskipun beliau gak pernah sekolah di disiplin ilmu kebijakan publik.
Paper ini saya baca karena kebutuhan untuk estimasi fungsi produksi Constant Elasticity of Substitution (CES). Umumnya ketika melakukan estimasi Total Factor Productivity (TFP), ekonom lebih suka menggunakan fungsi Cobb-Douglass yang gampang dibikin linear, dan parameternya lebih berguna untuk diterjemahkan ke dunia nyata. Sayangnya, kalau mau menggunakan model terstruktur seperti model Computable General Equilibrium (CGE), model estimasi pake Cobb-Douglass punya kelemahan berupa parameter substitusinya akan selalu 1. Hari gini mana ada model CGE yang pake substitusi=1?
Sebenarnya udah lama sih mau ngeblogin review papernya {% assign author = site.data.article[page.author] %} {{ author.name }} {{ author.year}} . Paper ini banyak yang nge-cite, dan ketika nongol emang isu-nya hot banget: soal bagaimana penurunan tarif bisa membantu Indonesia ngikut Global Value Chain (GVC), dan makin produktif.