Hae gais. Dah lama banget saya gak update blog. Kesibukan lagi agak menggila nih. Semua gara-gara COVID-19.
Seperti mungkin teman-teman ketahui, si novel coronavirus ini udah bikin geger dunia. Masalah yang ditimbulkan oleh si virus, berubah begitu cepat, jauh lebih cepat daripada pemerintah dan rakyat jelata bereaksi. Waktu pertama kali COVID-19 mulai ramai, saya begitu kaget dan gak tau mau ngapain. Kerjaan saya cuma liat-liat berita aja. Saat ini saya di Australia, tapi setengah pikiran saya ada di Depok, tempat berdiam keluarga saya terutama ibunda yang sudah 70++. Saya hanya bisa menawarkan doa dan support untuk adek yang bantuin ngurusin kebutuhan ibu.
Hai semua. Pada postingan kali ini, saya akan melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang Kebijakan Industri yang mengatakan bahwa untuk memajukan industri manufaktur, Indonesia butuh lebih dari sekedar Kementerian Perindustrian. Jangan-jangan target yang diusung Kementerian Perindustrian agak terlalu makro alias kurang spesifik?
Dunia sedang dihebohkan gara-gara kehadiran novel coronavirus atau yang disebut juga COVID-19. Virus ini mulai pecah di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), persisnya di kota Wu Han, propinsi Hu Bei, pada awal tahun ini ketika lebaran RRT (Chinese lunar new year) hampir dimulai. Per artikel ini ditulis, WHO mengatakan bahwa Sudah ada 88.948 orang terkonfirmasi di seluruh dunia, di mana 80.174-nya ada di RRT (lihat ini untuk statistik real-time). Seluruh dunia memiliki risiko yang tinggi untuk terhadap COVID-19, termasuk Indonesia.
DISCLAIMER: Tulisan ini bersifat murni pendapat pribadi penulis, ditulis iseng-iseng aja, tanpa mewakili pandangan institusi manapun.
Belum lama ini, Netijen dihebohkan oleh rencana pemerintah untuk memblokir handphone alias telepon seluler (ponsel) yang tidak terdaftar alias tidak resmi. Setiap ponsel memiliki International Mobile Equipment Identity (IMEI), semacem KTP buat ponsel gitu, dan ponsel yang tidak terdaftar IMEI nya dianggap ponsel Black Market (BM) dan tidak bisa digunakan di Indonesia. Beberapa informasi tentang aturan tersebut dapat dilihat di link di Tirto, Liputan 6, dan Kompas, serta tentu beberapa media lain.
Baru-baru ini netijen dihebohkan oleh berita OTT kasus penyuapan impor bawang putih. Beritagar lumayan detil mendokumentasikan kasus ini, dan setiap reportase mereka menurut saya pribadi sangat menarik untuk dibaca. OTT tersebut berhasil mendapatkan bukti transfer sebesar 2 milyar rupiah dari total deal sebesar “…Rp3,6 miliar dan imbalan komitmen Rp1.700 — Rp1.800 dari setiap kg bawang putih yang diimpor”. Gile ye, 2 milyar kalo dibeliin bubur ayam bisa buat anak cucu tuh!
Another week, another trade related post! Baru-baru ini, netijen dikejutkan (lagi) dengan berita bahwa Indonesia akan mengimpor ayam dari Brazil. Hal ini akibat Indonesia disengketakan oleh Brazil ke WTO karena Indonesia menghalangi impor ayam dari Brazil, dan Indonesia kalah. Ini menyebabkan Indonesia harus merelaksasi peraturan pembatasan impor ayam.
Perencanaan adalah hal yang penting. Seperti kata pepatah:
“A man who does not plan long ahead will find trouble at his door.” ― Confucius, Chinese philosopher
baru-baru ini saya menemukan software gratisan bernama ADMB. Software ini fungsinya untuk mengestimasi regresi non-linear. Saya perlu estimasi regresi non-linear untuk dapet parameter elastisitas yang bukan 1.
Contoh yang dipakai oleh ADMB untuk Robust Linear Regression adalah model (von Bertalanffy) growth curve yaitu:
This article is originally appears here on my medium blog. I remake it in this blog because here I can use $\LaTeX$!! yay!! I don’t change anything so if you’ve red this in my medium domain then skip this.
Untuk postingan review paper pertama, saya akan coba pake papernya {% assign author = site.data.article[page.author] %} {{ author.name }} {{ author.year}} yang pastinya menarik. jadi paper beliau yang berjudul {{ author.title}} ini dipublikasikan di {{author.journal}} baru-baru ini. Tentunya akan menarik melihat bagaimana raksasa manufaktur seperti Jepang tergeser oleh Korea Selatan maupun Taiwan.