Blog posts

drama larangan ekspor dan relaksasi standar di pasar APD Indonesia

Rasanya sudah bukan rahasia lagi kalau saya agak kritis terhadap larangan ekspor Kementerian Perdagangan, tepatnya Permendag 34 Tahun 2020 tentang larangan ekspor anti-septik, APD, masker, dan bahan baku APD. Peraturan ini mungkin niatnya baik, akan tetapi dapat berdampak negatif karena mengganggu supply chain, mengurangi kredibilitas pemerintah maupun perusahaan kita, dan tidak menolong dalam hal meningkatkan kapasitas produksi. Apalagi kita sangat tergantung impor di hampir segala item yang berhubungan dengan COVID-19 (lihat tabel 1 dan tabel 2). Kita bisa saja membantu dunia memerangi COVID-19 dengan memberikan sumbangan tenaga penjahit APD, sambil mendapatkan barang-barang impor tersebut. Ekspor juga akan membantu mengamankan stok dolar untuk impor.

The Value of Everything: Sebuah Ulasan

Belum lama ini, saya menyelesaikan salah satu buku yang rame banget di kalangan ekonom, yaitu “The Value of Everything: Making and Taking in the Global Economy” karangan bu Mariana Mazzucato. Menurut saya, melalui buku ini, Bu Mazzucato berusaha menyediakan kritik terhadap kapitalisme (atau, secara umum, “marginalists view”), tanpa mengatakan bahwa kapitalisme adalah sistem yang gagal.

Perdagangan dan COVID-19: kelemahan comparative advantage di tengah coronavirus?

COVID-19 sepertinya masih akan berlanjut. Update terbaru mengatakan bahwa saat ini kita berada di 686 kasus. Seiring dengan meningkatnya testing, kasus ini akan meningkat dengan lebih cepat lagi. Dengan kondisi seperti ini saja, tenaga kesehatan kita seperti kesulitan mengatasi kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju Hazmat dan masker.

Peranan Industri Manufaktur di Tengah Badai COVID19

Saya rasa sudah banyak yang membicarakan dampak COVID-19 baik secara kesehatan maupun terhadap ekonomi. Terakhir yang saya baca adalah dampak makro COVID-19 menurut modelnya Professor McKibbin dan mahasiswanya, Fernando. Mereka menggunakan beberapa shocks, diantaranya penurunan suplai tenaga kerja, meningkatnya risk premia, dan ongkos produksi. Kesemua variabel shocks tersebut tentu saja relevan, apalagi untuk manufakturing yang menyulitkan work from home karena pekerja pabrik harus mengoperasikan mesin dari lokasi pabrik.

COVID-19 and The Economy of Informal Sectors

World Health Organization (WHO) has declared the COVID-19 as a global pandemic. The organization has sent letters to inform global leaders to prepare themselves for the worst to come, including our very leader Joko “Jokowi” Widodo. Jokowi’s way of handling the pandemic so far has been receiving criticism for not doing (professionally) enough, with some Some even suggest a lockdown.

Aku, Canberra, dan COVID-19

Hae gais. Dah lama banget saya gak update blog. Kesibukan lagi agak menggila nih. Semua gara-gara COVID-19.

Seperti mungkin teman-teman ketahui, si novel coronavirus ini udah bikin geger dunia. Masalah yang ditimbulkan oleh si virus, berubah begitu cepat, jauh lebih cepat daripada pemerintah dan rakyat jelata bereaksi. Waktu pertama kali COVID-19 mulai ramai, saya begitu kaget dan gak tau mau ngapain. Kerjaan saya cuma liat-liat berita aja. Saat ini saya di Australia, tapi setengah pikiran saya ada di Depok, tempat berdiam keluarga saya terutama ibunda yang sudah 70++. Saya hanya bisa menawarkan doa dan support untuk adek yang bantuin ngurusin kebutuhan ibu.

COVID-19 dan potensi dampaknya terhadap perdagangan Indonesia-RRT

Dunia sedang dihebohkan gara-gara kehadiran novel coronavirus atau yang disebut juga COVID-19. Virus ini mulai pecah di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), persisnya di kota Wu Han, propinsi Hu Bei, pada awal tahun ini ketika lebaran RRT (Chinese lunar new year) hampir dimulai. Per artikel ini ditulis, WHO mengatakan bahwa Sudah ada 88.948 orang terkonfirmasi di seluruh dunia, di mana 80.174-nya ada di RRT (lihat ini untuk statistik real-time). Seluruh dunia memiliki risiko yang tinggi untuk terhadap COVID-19, termasuk Indonesia.