Finally I got to upgrade my stata to Stata 17! I was looking forward to using Stata in my Python environment. This post is just me trying a PPML package (Stata, not the USITC one)
This post is created to quickly demonstrate one of the possible answer of question 4 of tutorial 1 of ECON3102. I chose to use r’s WDI to show it but any other software and any other source of data can be used obviously. The reason why I use WDI is because it is convinient and easy to show some graph. If we use World Development Indicators we don’t even need to download it. Just use its graph function which is super convinient.
Saya sangat jarang nulis di blog tentang COVID-19. Terakhir ngepost tentang stats covid kayaknya waktu bahas soal kematian. Hari ini mau coba lihat lagi statistik COVID-19 di Indonesia, terutama belakangan ini karena lagi ramai lagi soal undertesting.
Pada postingan saya yang lalu, saya nulis tentang perpindahan saya ke keyboard mekanik untuk pertama kalinya. Keyboard non mekanik saya terakhir adalah Logitech MX Keys yang saya beli dalam rangka work from home. Di situ juga saya tulis perjalanan saya sampai pada nyobain Razer Huntsman, sebuah keyboard mekanik tapi sebenernya optikal.
Twitter saat ini sedang ramai gara-gara postingan BEM UI yang ini:
Diantara replies-repliesnya, ada beberapa yang menarik, yang intinya mempertanyakan legitimasi BEM UI dalam mewakili seluruh aspirasi mahasiswa Universitas Indonesia. Beberapa juga berkata bahwa BEM UI sebaiknya jangan dijadikan alat politik. Bahkan ada yang menyerang ketuanya dan mempermasalahkan bahwa ketua BEM UI adalah bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Gula adalah salah satu komoditas paling penting di Indonesia. Konsumsi gula sangat Indonesia sangat tinggi. Pada 2018 saja, Indonesia mengonsumsi 26.34 kg per penduduk, jauh lebih tinggi daripada India, Vietnam dan Filipina1. Hal ini bahkan terjadi di saat harga gula domestik jauh lebih tinggi daripada harga internasional1.
Akhirnya saya punya waktu luang untuk menonton kuliah umum yang dibawakan oleh Profesor Keyu Jin from LSE. Beliau bercerita tentang tekno-nasionalisme dan mendiskusikan tentang apakah hal tersebut baik atau tidak. Diskusi ia mulai dengan menjelaskan perbedaan antara tech giants dengan manufaktur konvensional pada umumnya.
Postingan kali ini adalah tentang apa yang saya ketahui tentang ekonomi digital di Indonesia. Saat ini Indonesia (dan sebenarnya seluruh dunia sih) sedang latah-latahnya industri 4.0, ekonomi digital, internet of things and the likes. Digitalisasi sepertinya memang tidak terhindarkan. Ketika globalisasi meredup, tren pertukaran data malah naik gila-gilaan. Beberapa isi postingan ini juga tertuang di buku kolaborasi PPI Australia tentang Mewujudkan Indonesia 4.0. Di buku itu, yg dibahas lebih banyak lagi, termasuk pengaruh digitalisasi di sektor kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Baru-baru ini, Indonesia lagi ramai soal MoU Indonesia dan LG Energy Solution, perusahaan penghasil sel baterai asal Korea Selatan. Isi perjanjiannya kira-kira bahwa LG Energy Solution akan melakukan investasi besar-besaran di Indonesia dari hulu ke hilir di produksi sel baterai di Indonesia. Saya dan rekan saya Wishnu Mahraddika menulis tentang ini di The Conversation Indonesia. Kami cukup optimis dengan perkembangan tersebut dan berharap bahwa ini akan menjadi momentum perkembangan industri otomotif di Indonesia khususnya di bidang mobil listrik.
Saya kurang suka jalan-jalan, apalagi yang jauh-jauh. Tapi sepertinya kesempatan kali ini agak sayang untuk dilewatkan karena Tidbinbilla lagi ada promo gratis masuk sampai tahun baru.
Tidbinbilla adalah semacam cagar alam di kawasan Canberra, ibu kota Australia. Dia lokasinya di agak gunung gitu. Kalau dari kota, nyetir dulu sekitar 40an menit. Di sana, kita bisa lihat berbagai vegetasi khas Australia seperti hutan eucalyptus. Di sini juga banyak hewan-hewan khas Australia seperti Kangguru, Wallabies, Koala, Platypus, dan berbagai jenis burung, serangga dan reptil. Tidbinbilla cocok banget buat orang yang seneng jalan-jalan di alam gitu. Banyak walking trail dari yang mudah, beraspal, cuma 1-2 km-an, sampe yang sulit, nanjak dan berbatu-batu.